Wednesday, April 13, 2016

Taken from http://3.bp.blogspot.com/

Tulisan ini berawal dari rasa bersalah pada sekelompok semut merah yang tanpa sengaja telah mengajarkan saya arti kehidupan.
***
Sungguh, saya benar-benar terkejut dan kesal saat mendapati sekumpulan semut merah telah menjalari nasi di dalam panci rice cooker. Padahal saya sedang letih dan ingin langsung makan siang.
Siang itu saya baru saja pulang dari suatu tempat sambil menenteng es sari tebu dan beberapa camilan. Es tebu memang sangat cocok untuk melepas dahaga sekaligus mengisi kembali tenaga yang terkuras. Udara sedang agak panas memang.
Sayang, saya tak begitu memperhatikan ketika hendak menyendok nasi karena sang sendok terletak dalam keadaan tertungkup. Akibatnya, saya tak bisa melihat sekawanan semut yang bersembunyi di baliknya. Ternyata saya lupa membuang gelas plastik bekas es tebu yang dibeli tadi. Saya tanpa sengaja meletakkan gelas plastik di samping sendok nasi. Alhasil kedua benda tersebut pun telah dijalari oleh semut-semut merah yang kondang akan gigitannya yang ganas.


Kini saya kebingungan bagaimana cara mengeluarkan mereka dari dalam panci. Saya ingin makan. Panci itu sudah diguncang-guncang sedemikian rupa, namun semut-semut itu tak bergeming. Mereka tampak kebingungan karena tiba-tiba mendarat di atas nasi putih itu.
Akhirnya saya memakai metode pengusiran paksa. Saya letakkan panci itu di atas rice cooker dengan tutup terbuka agar mereka bisa keluar karena hawa panas yang tercipta. Namun saya salah perhitungan. Tepian panci memanas drastis. Semut-semut itu tak berani keluar. Akhirnya saya mengeluarkan panci tersebut dari dalam rice cooker. Lalu saya letakkan sendok tadi ke dalam panci dengan keadaan tegak dan bersandar pada tepiannya. Fungsi sendok nasi tersebut adalah sebagai ‘jembatan keluar’.
Seekor semut langsung tanggap dengan sendok yang saya berikan. Ia langsung meniti jembatan buatan tersebut dan berlari keluar. Namun semut itu berhenti di tengah jalan dan tiba-tiba berbelok arah. Ia mengitari teman-temannya yang masih berada di bawah, seakan memberi sinyal: Kawan-kawan, ini ada jalan keluar!

Perlahan semut-semut yang di bawah mengikuti semut pertama tadi. Setelah rombongan semut pertama telah mencapai ujung jembatan, saya pindahkan mereka langsung ke atas lantai. Mereka pun berlari cepat seolah merayakan kebebasannya. Begitu juga dengan pembebasan rombongan kedua dan ketiga. Lalu pada rombongan terakhir, yaitu rombongan keempat, semut-semut tersebut sudah habis keluar.


Akhirnya saya melanjutkan makan siang yang tertunda tadi dengan tenang.

*Padang, 11 April 2016, Pukul 22.30

Bonus:
 Saat-saat para semut merah meniti jembatan untuk mencari jalan keluar.




Sunday, April 3, 2016


Anime yang satu ini tidak pernah lepas dari saya sejak kecil, sejak SD dulu. Kenapa? Karena saya telah jatuh hati dengan serial ini sejak pertama kali menatapnya di layar televisi. I don’t know why, its complicated plot really captivated me.
Saya telah lama berhenti menonton serial ini. Seingat saya, waktu itu pada masa-masa SD, anime ini menghilang dari salah satu stasiun TV swasta dan digantikan oleh acara pertandingan tinju. Cukup sedih memang, karena ceritanya terputus di tengah jalan dan saya penasaran seperti apa kelanjutan ceritanya.
Untuk mengobati kerinduan saya dengan serial ini, saya mengoleksi soundtrack nya sewaktu SMP dan mendengarkannya berulang-ulang. Terkadang dengan teman-teman sesama pecinta anime, kami bernostalgia membahas cerita bertemakan perang yang fenomenal itu. Menurut survei online oleh TV Asahi pada 2006, Inu Yasha menempati peringkat 20 dari 100 serial anime terbaik di Jepang.
Inu Yasha, atau lebih dikenal dengan siluman anjing setengah manusia. Saya bertemu lagi dengan serial ini pada tahun keempat di bangku perkuliahan. Saya mengoleksi serialnya hanya sampai episode 105. Itupun beberapa episode zonk. Sebenarnya saya mencari-carinya sampai episode terakhir, sayangnya karena kesibukan harian, saya tidak mendapatkannya.               
Karena tidak sabaran mengetahui endingnya, saya memutuskan untuk mencari spoiler episode terakhir serial ini alias The Final Act dari berbagai sumber. Dan, voila! Malam ini saya membaca sebuah artikel yang membahas karakter-karakter dari anime Inu Yasha. Akhirnya ending serial yang telah membuat kepala saya penuh karena penasaran terkuak.
Persis dengan harapan saya, anime Inu Yasha berakhir dengan indah. Tapi fakta di belakang akhir yang bahagia ini memang mengejutkan.
Dalam artikel yang saya baca itu, disebutkan dalam opening theme The Final Act, sang karakter utama, Inu Yasha dan Kagome telah terikat oleh benang merah, benang takdir. Kagome sendiri merupakan reinkarnasi dari cinta pertama Inu Yasha lima puluh tahun lalu, Kikyo.
Kikyo dan Inu Yasha yang saling mencintai terpisah oleh maut selama lima puluh tahun. Kemudian Kagome sebagai reinkarnasi Kikyo muncul. Akhirnya mereka ‘kembali’ ditakdirkan bersama. Jadi Inu Yasha telah benar-benar bertemu dengan cinta sejatinya.
Kenapa bisa?
Saat Kikyo menemui ajalnya, ia membakar bola kristal ajaib Shikon no Tama bersama jasadnya. Shikon no Tama sejak pertama kali terbentuk telah menjadi rebutan para siluman dan manusia yang memiliki niat jahat. Kikyo dan Shikon no Tama pun menghilang dari muka bumi saat itu.

Namun perasaannya terhadap Inu Yasha masih hidup. Shikon no Tama yang merupakan bola ajaib mendengar perasaan Kikyo.  Oleh kekuatan sakral Shikon no Tama, perasaan Kikyo yang masih hidup menjadi sebuah jiwa yang terlahir lima puluh tahun kemudian. Jiwa itu hidup pada seorang gadis yang menyerupai dirinya, Kagome.
Kagome sendiri terlahir dengan cahaya yang berkilauan. Cahaya itu berasal dari bola kristal Shikon no Tama yang telah berada di dalam tubuh Kagome semenjak ia lahir.
Shikon no Tama pada tubuh Kagome awalnya berada pada mode tidur. Namun saat ia mendekati Sumur Pemakan Tulang di kuil tempat ia tinggal, Shikon no Tama menjadi aktif kembali dan menghidupkan siluman yang pernah mati di dalamnya. Siluman tersebut kemudian mengambil paksa Shikon no Tama dari tubuh Kagome. Akibatnya, Kagome terseret ke dalam Sumur Pemakan Tulang yang menghubungkan dua zaman, zaman modern dan zaman perang. Kemudian Kagome pun terdampar ke zaman perang.
Kemudian, Inu Yasha yang tengah tertidur ‘abadi’ selama lima puluh tahun di zaman perang terbangun akibat mencium baru darah Kagome yang terluka. Bau darah dari reinkarnasi cinta pertamanya.
Begitulah awalnya mereka bertemu. Tidak hanya sampai disitu, mereka juga tertakdir untuk berjuang bersama. Berjuang untuk melenyapkan bola kristal ajaib Shikon no Tama yang diperebutkan para siluman dan manusia yang berniat jahat. Selama perjuangan itulah mereka jatuh cinta.
Dan saat Shikon no Tama akan dilenyapkan, saat itulah Inu Yasha dan Kagome memutuskan untuk bersatu.                 
Akhir yang indah bukan?
Disini, saya sangat menyukai karakter Kagome. Karakternya digambarkan sebagai seorang wanita berwajah cantik dengan tubuh yang indah dan kulit yang mulus.
Seharusnya dengan paras seperti itu ia bisa hidup dengan bahagia tanpa bersusah payah berjuang di jaman Perang yang notabene bukan zamannya. Pada zamannya, zaman modern, ia bisa saja hidup dengan Hojou-kun. Hojou-kun merupakan pria idaman di SMP nya. Hojou-kun juga terang-terangan menyukai Kagome.
Tak seperti remaja-remaja yang lainnya, Kagome sangat yakin dengan keputusannya. Ia tidak takut melawan arus, hidup berbeda dari orang-orang normal. Meski sempat dipermalukan oleh teman-temannya karena tidak pernah berkencan, ia tetap pada pendiriannya.
Ia tetap memilih untuk sendiri dan berjuang bersama sahabat-sahabat di zaman perang yang berada pada dua ratus tahun yang lalu. Hidup di zaman tersebut tidaklah mudah. Ia telah bertaruh dengan maut hingga  puluhan kali. Karena ia adalah wanita yang kuat, ia mampu bertahan.
Akhirnya ia bertemu dengan cinta sejatinya dan hidup di tempat yang membuatnya bahagia.



*Padang, 3 April 2016. Pukul 23.11


Saturday, March 19, 2016

Mentari di kota Padang nyaris menggantung di puncak langit kala itu. Saya baru saja menaiki sebuah angkot putih jurusan Tabing dari depan Basko Grand Mall. Belum lama, hanya sekitar lima menit. Saya sedang asyik menikmati langit kota yang bersinar manis kala itu. Warna biru langit masih bercampur dengan awan gelap yang dihiasi sinar merah muda bercampur oranye bekas fajar tadi.
Suasana langit pagi sebelum berangkat.
Sumber foto: Dokumen pribadi penulis.


***
Tak lama kemudian angkot berhenti di sekitar Pasar Ulak Karang. Agaknya sang supir menunggu orang yang berjalannya lama sekali. Awalnya saya acuh karena sibuk memperhatikan beberapa toko yang tengah bersiap-siap untuk buka. Namun saya tak sabar juga karena mulai kepanasan. Orang yang dinanti-nanti pun belum naik juga. Lalu saya menengok ke jendela. Dari arah Pantai Purus, tampak tiga orang pria berbadan tegap dan berwajah bersih berjalan santai menuju angkot. Mereka masing-masing memanggul sebuah tas ransel besar, mirip tas yang bertengger di punggung para backpackers. Isinya penuh namun tampak ringan. Dan akhirnya mereka masuk ke dalam angkot.
***

Ketiga orang itu tampak repot sekali mencari tempat duduk. Lalu bergeserlah seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan kaus abu-abu ke tempat duduk paling pojok. Sekilas penampilannya mirip dengan ketiga pria backpackers itu.  
Pria backpacker pertama dan kedua duduk bersebelahan dengan pria berkaus abu-abu. Sedangkan pria backpacker ketiga duduk berseberangan, menghadap pria backpacker kedua. Setelah angkot berjalan, pria berkaus abu-abu seketika mengamati setiap orang diatas angkot. Selain saya, ada mama saya, seorang mahasiswi dan seorang pria umur 25-an.
Tiba-tiba pria berkaus abu-abu menyeringai, matanya mendelik ke arah saya. Seketika saya teringat sebuah kejadian, kira-kira tiga setengah tahun lalu. 

Saya hendak pergi kuliah. Dengan posisi duduk yang sama, tiga orang pria paruh baya bertubuh kurus dengan gerak-gerik aneh mengepung saya yang tengah duduk sendiri di atas angkot. 
Sumber ilustrasi: Dokumen pribadi penulis.
Salah seorang pria tersenyum 'ramah' dan tiba-tiba mengetuk punggung tangan saya. Pandanganku seketika sedikit mengabur, dan saya mengantuk. Namun perasaan terasa sungguh tidak enak dan hati kecil saya bergetar. Saya langsung menyetop angkot dan tanpa jeda menyambar angkot lain. Angkot sebelumnya itu berhenti. Ketiga orang itu tampak sedikit kaget dan tampak hendak turun dari angkot. Untung angkot baru yang saya naiki telah penuh. Ia melaju kencang membawa saya yang gemetaran, terdiam seribu bahasa.
***

Kembali saya melihat ketiga backpackers berbadan tegap itu. Tanpa membuang waktu lagi saya menyetop angkot. Mama langsung terkejut dan tak berhenti bertanya sampai saya membayar ongkos. Ketiga backpackers itu juga tak kalah terkejut. Ketika melewati pintu keluar, salah seorang backpacker mulai mendesakkan ranselnya ke tas jinjingku.
Kami turun di Ulak Karang. Seharusnya kami berhenti di Jalan Ahmad Yani untuk menyambung angkot lain. Tapi saya diam saja. Sang supir tampak kesal. Ia kalap, dan memasang tarif mahal. Sama seperti tarif dari Air Tawar ke Pasaraya. Sungguh tega. Entahlah apa yang ada di pikirannya.
Akhirnya kami bebas.
Seketika kedua tanganku gemetaran. Badan pun perlahan mendingin. Akhirnya saya menjelaskan kepada mama alasan kenapa kami turun ‘lebih cepat’.
Wajahnya yang kebingungan langsung berubah ketakutan. Mungkin sama persis seperti ekspresi ketakutan saya waktu itu. Sayang sekali, mama tidak begitu ngeh dengan keganjilan di atas angkot tadi.
***

Saya memang tak bisa langsung menuding para backpackers tadi dan kawan-kawannya hendak berbuat jahat. Namun ketika itu jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasa. Bibir terasa kering dan seluruh tubuh gemetaran. Hal itulah yang saya rasakan ketika dipojokkan orang asing di atas angkot semester satu lalu. Sang intuisi mengatakan hal yang sama pada dua kejadian yang berbeda tersebut. Pergi. Sejauh-jauhnya.


*Padang, 19 Maret 2016. Pukul 23.18.


Thursday, March 3, 2016

Saat itu nyaris memasuki waktu isha. Berarti kira-kira jam 19.40. Aku dan teman sekamar baru saja kembali dari warung membeli beberapa camilan. Aku tengah duduk, menghadap kipas angin, mengusir panas yang begitu menyengat seharian tadi. Ya, sekitar seminggu ini, hari begitu cerah, panas, nyaris tak ada segaris awan putih di langit yang biru. Panas yang tak wajar tersebut merupakan salah satu tanda gempa besar yang akan terjadi.
Tiba-tiba, Putri, teman sekamar saya itu berteriak panik. Saat itu beberapa gadis di depan rumah juga tengah berteriak dengan hebohnya, tampaknya keroyokan acara ulang tahun. “Kak, gempa!”
Gempa? Aku terbingung diantara suara panik Putri dan teriakan anak-anak diluar. Tapi keadaan tampaknya serius. Putri langsung menarik tanganku dan kami keluar ruangan. Ternyata semua orang telah berada di luar ruangan. Wajah mereka cemas, beberapa menerawang dengan tatapan kosong. Suara heboh tadi sudah menghilang, berganti dengan teriakan panik karena gempa tak kunjung berhenti.
Anehnya ku tak merasakan sedikit getaran pun. Aku mencoba meyakinkan Putri. Ia gemas dan menunjuk pohon yang berdiri di depan kamar kost kami. Pohon itu bergoyang-goyang. Tapi lagi-lagi aku tak merasakan getaran apapun. Dalam beberapa menit yang mencekam itu, kami terdiam. Beberapa orang menelepon sanak famili, yang lainnya browsing, mencari info tentang gempa.
***
Suara adzan berkumandang, masih belum ada info yang jelas mengenai gempa. Kami masih diliputi keheningan. Kemudian Putri berseru di tengah suasana yang nyaris akan pecah. “Kak, 8,3 kak, makonyo kareh tu nyo, potensi tsunami kak.”
Ya Allah, tsunami? Kata-kata itu hanya sering aku dengar di televisi dan ku lihat di media cetak. Kini, mungkin dalam jangka waktu tiga puluh menit lagi ia akan menghantam kota yang telah kudiami selama kurang lebih empat tahun ini.
Kota Padang dilihat dari udara.
Sumber gambar dari http://2.bp.blogspot.com/
Tiba-tiba ku teringat handphone masih terletak di dalam tas. Segera kuamankan barang-barang berharga. Ternyata mama sudah menelepon, tapi tak terangkat. Missed call. Sungguh sayang, saat itu kartuku tengah masuk masa tenggang. Mama, tolong telepon aku sekarang.
“Rissa? Pergi ke Lubuk Buaya sekarang” ucap mama begitu panggilan yang kedua masuk. Ah, suara itu memberiku sedikit nafas disaat yang mencekam. Namun aku bimbang, ada Putri yang ketakutan karena akan kutinggalkan sendirian. Tak lama kemudian, entah kenapa inderaku mendadak menjadi berlebihan. Aku seakan mendengar debur ombak dan mencium aroma segar laut.
Aku langsung berinisiatif mengajaknya untuk pergi. Entah apa yang ada di pikiranku, aku menyuruhnya pergi dengan motornya ke kampung halamannya , Pariaman, dan aku akan ke Lubuk Buaya. Disana ada mamaku, etek, om dan nenek. setidaknya aku akan berada di antara orang-orang terdekat…mungkin disaat terakhirku. Saat itu aku hanya ingin melihat wajah mama, apapun yang terjadi.
Putri sendiri bimbang, ia memilih menunggu teman sekamar yang lain, Kak Nanda dan Suci. Ya Allah, aku ingin berada di dekat mamaku secepatnya. Kalau bisa langsung melesat.
“Put, kak pai yo, kak nio ka lubuak buayo.”
Sungguh berat melihat Putri yang mengiyakanku untuk pergi. Aku hanya ingin berada di dekat mama. Oh, egoiskah diri ini?
***
Aku berlari, entah seberapa cepat. Saat itu langusng ku sambar angkutan kota berwarna oranye, jurusan Lubuk Buaya. Orang-orang di dalam angkot masih belum tahu ada bahaya yang mengancam saat itu.
Tak lama kemudian sebuah pemandangan membuat tubuhku mendingin. Puluhan sepeda motor dengan penumpangnya yang berderet-deret dan beberapa mobil keluar dari Simpang Labor. Wajah mereka semua panik dan kosong. Akhirnya semua orang di dalam angkot menyadari bahaya yang akan segera mengancam. Dua kata terngiang di telingaku. Tsunami. Mengungsi.
Gambar kekacauan saat gempa diambil dari cdn.tmpo.co/. Saat itu, penulis
tak memiliki alat untuk mengambil gambar.
Sang supir langsung tanggap dengan situasi ini. Ia menaikkan semua orang dengan cepat. Kami bersusun-susun seperti sarden di dalamnya. Seorang penumpang perempuan terisak. Di daerah Tunggul Hitam, puluhan kendaraan berbelok kesana, ke arah zona hijau, Lubuk Minturun dan Bypass. Haruskah kami pergi kesana? Tidak, aku harus ke Lubuk Buaya. Aku pasti akan aman di sisi mama. Aku tak sanggup jika tak bisa melihat wajahnya lagi. 
***
Di saat genting dan terjepit seperti itu, semua orang tampak berubah. Kami menjadi pemarah. Setiap ada yang lambat naik atau turun angkot, semua orang akan berseru kesal. Tak terkecuali diriku. Setiap saat aku merasa kesal kenapa angkot itu berjalan lambat sekali, kenapa ada macet yang menjebak kami di daerah Tabing. Aku hanya ingin cepat sampai. Mama terus menelepon, menanyakan keberadaanku. Aku tak tahu sedang dimana, semua samar, karena panik dan hari sudah malam. Gelap.
Namun di satu sisi, aku sedikit merasa tenang melihat beberapa orang di lapau nasi dan kedai lain masih santai. Bahkan ada yang duduk bersilang kaki dan merokok. Tidakkah mereka takut? Ah, pasti warga kota Padang sudah pernah menghadapi gempa dengan isu tsunami 2009 lalu tersebut sudah terbiasa. Sedangkan diriku baru menginjak kota ini tahun 2012, dan hanya berpengalaman dengan gempa-gempa kecil.
Entah sudah berapa lama kami berada di atas angkot. Saat melintasi daerah Muaro, aku melongok ke arah pantai yang tampak lebih jelas disana. Aneh, laut tampak begitu tenang dengan deburan ombaknya, meski ia berwarna hitam saat itu. Dan lebih anehnya lagi, aku kembali menghembus nafas lega. Namun bukan berarti keteganganku berkurang.
Akhirnya angkot telah melewati pasar Lubuk Buaya, itu artinya komplek Lubuk Sejahtera Lestari yang kutuju telah dekat. Di tanganku telah tergenggam selembar uang biru. Karena panik aku memutuskan untuk memberikan saja uang itu kepada supir angkot. Aku tak punya uang receh.
**
Angkot berhenti, komplek Lubuk Sejahtera Lestari terlewat sedikit. Kuberikan uang lembaran biru itu.
“Baliakkan se bara nan ado, da”
“Ndak bisa bitu do diak.”
Supir itu, dia menolak menerima uangku begitu saja. Ia mengambil uang kembalian, aku menyambarnya dan langusng pergi.
“Oi!” supir tadi berseru marah.

Ternyata kembaliannya masih kurang. Kenapa ia memarahiku untuk memberikan uang kembalian tersebut? Kenapa ia tidak pergi saja? Bukankah saat ini semua orang tengah dikejar waktu? Ya Allah, disaat seperti itu, ia masih menolak uang yang menurutnya bukan haknya. Ia pasti seorang pria yang benar-benar baik.
Usai urusanku dengan sang supir, aku melongok mencari mama. Aku memintanya menunggu di seberang komplek, di depan Kantor Camat Koto Tangah. Aku merasa tak sanggup untuk menyeberang. Saat sosok wanita tegar itu tampak, air mata ini tumpah, tak kuasa lagi untuk tertahan. Dari seberang jalan hingga ke dalam rumah tanganku dan mama terus bergenggaman erat.
***
Ternyata perjalanku mulai dari rumah kost sampai ke depan jalan raya, kemudian saat di angkot, hingga sampai ke dalam rumah memakan waktu satu jam. Waktu memang sangat tidak terasa lamanya. Di dalam rumah etek dan om, kami terus memantau televisi. Allah Maha Besar. Peringatan tsunami telah dicabut. Jika tsunami memang datang, mungkin aku akan terhenti di tengah perjalanan. Setelah itu tidak tahulah apa yang terjadi.
***
Sebelum tidur, aku bertukar kabar dengan teman-teman yang lain dan saudara di rantau. Syukurlah, teman sekamarku, Putri, Suci dan Kak Nanda telah mengungsi ke Bypass. Terbetik rasa bersalah telah meninggalkan mereka begitu saja.
Adikku sendiri yang tinggal di Limau Manih, dekat kampus Unand yang berada di zona hijau juga panik. Ia menelepon beberapa kali karena teman-temannya mendengar isu air laut surut saat itu. Air laut yang surut merupakan pertanda akan ada ombak lain yang ganas dengan ketinggian berkali-kali lipat dari ombak biasa menerjang daratan.
Terhitung sejak 2 Maret hingga 3 Maret malam, tubuh ini masih gemetaran. Sedikit saja getaran atau suara gemuruh membuatku gentar. Namun salah peristiwa bersejarah dalam hidupku ini harus dituliskan. Aku ingin membagikan sebuah kisah saat maut yang tak disangka-sangka nyaris tampak di hadapan. Serta bagaimana manusia bisa berubah dalam sekejab di saat genting. Sebuah keadaan yang sedikit menggambarkan bagaimana manusia terkatung-katung dalam kebingungan di saat akhir zaman nanti.

*Padang, 3 Maret 2016 Pukul 10.30 WIB


Sunday, January 17, 2016

imgsource: http://purwoudiutomo.com

Liburan kemana aja?
Ah, euforia liburan memang luar biasa. Sanggup membawa pertanyaan yang epik itu tiap tahunnya.

Mungkin beberapa orang memilih untuk menikmati buaian sejuknya hawa pedesaan. Yang lainnya memilih menikmati hangatnya pasir pantai yang menggelitik. Beberapa yang lain barangkali pergi ke tempat yang jarang diketahui orang banyak.
Bagaimana denganku sendiri?

Aku memilih untuk mendaki sebuah gunung yang tengah bergejolak. Ini bukanlah kali yang pertama, sudah berkali-kali ku jejakkan kaki kesini. Dahulu, gunung yang cantik ini memberikan udara yang sejuk, oksigen yang cukup bahkan berlebih bagiku untuk bernafas. Sayang sekali, saat-saat indah itu tidak berlangsung lama.

Entah mengapa, aku tetap mengunjungi gunung itu, meski semakin lama frekuensinya semakin kurang. Dari tiap minggu, jadi tiap bulan, hingga tiap tahun.

Sebenarnya tempat itu tidaklah menyenangkan untuk dikunjungi lagi. Paru-paruku sebenarnya telah sesak terlalu lama menghirup awan tebal disana. Tapi ada sesuatu yang menarik hatiku untuk kesana.

Di puncak gunung nan elok itu bersemayam tiga bongkah emas yang tak ternilai. Sebenarnya emas-emas itu pernah berada di dekatku. Tapi entah kenapa ‘mereka’ bisa berjalan sendiri sampai sejauh itu. Dan sampai saat ini, aku hanya baru berhasil membawa satu bongkah emas.

Karena emas itu, tingginya gunung dan pekatnya awan tebal terindahkan oleh tubuhku yang rapuh ini.

Selama kurang dari satu bulan aku bertahan disana. Sebenarnya masih tidak mau untuk beranjak, but I have to. Ini bukan tempatku. Meski berat, akhirnya kuucapkan selamat tinggal pada kedua emas itu, dan kepada sang gunung.

I’ll be back someday. Ya, aku akan kembali, tapi tidak dengan tangan kosong. Aku akan pergi membawa kedua bongkah emas itu. Membawanya kembali ke sisiku. Kasihan mereka, awan pekat disana semakin pekat saja. Tunggu daku, wahai emasku.


For my precious gold. Actually you are nothing compared to gold or anything shining in this world. You are the reason why I live.

Thursday, September 24, 2015



Suatu ketika, di sebuah negeri antah berantah yang kaya raya, dimana nyaris setiap penduduknya sungguh makmur hingga perut mereka besar-besar dan buncit, hiduplah seorang gadis sederhana dan keluarga kecilnya yang sangat jauh dari kesan yang disimbolkan negeri tersebut.
Setiap orang disana memiliki kediaman yang nyaman, besar dan dihiasi tanaman-tanaman hijau yang menarik. Beberapa memelihara hewan ternak serta hewan peliharaan yang lucu-lucu sebagai teman bermain. Saking makmurnya penduduk itu, mereka memiliki semua kebutuhan hidup mereka dalam rumah masing-masing. Jika ingin sayur-mayur, mereka memiliki lahan hijau luas yang bisa ditanami aneka tetumbuhan yang mereka sukai. Jika ingin daging-dagingan mereka tinggal memotong hewan-hewan ternak. Bahkan beberapa hewan ternak itu juga menghasilkan telur dan susu yang bergizi, tidak hanya daging yang lezat tersebut.
Sang gadis dan keluarga kecilnya itu bukan berarti tak pernah memiliki itu semua. Nyaris beberapa tahun lalu ia punya itu semua. Namun semuanya telah menguap. Rumah, ladang dan hewan-hewan itu punya masa berlaku katanya. Hanya saja miliknya tandas lebih cepat dibanding yang lainnya.
Negeri yang ditinggali sang gadis memiliki banyak jenis perayaan. Tepat hari itu adalah sebuah perayaan besar dimana setiap orang menikmati daging ternak dalam jumlah besar. Pesta daging.
Sang gadis dan keluarga kecilnya terkadang tidak merayakan Pesta Daging tersebut. Tampaknya hari itu juga. Biasanya beberapa orang yang baik hati memberikan mereka beberapa bungkus daging. Sayangnya hari itu orang-orang tersebut tidak tampak. Tapi ia tetap memutuskan untuk ikut merayakan hari itu juga bersama keluarga kecilnya.
Sang gadis melongo ke bungkusan kain tempat ia menyimpan koin-koin emas. Kain itu tidak begitu berat, berarti koinnya itu tak cukup untuk membeli daging. Artinya ia tak bisa ikut merayakan Pesta Daging. Ia memutar otaknya dan tetap berjalan tanpa gentar ke toko.
Sesampainya di toko, sang gadis tersenyum simpul. Ia dan keluarga kecilnya ternyata masih bisa merayakan hari “Pesta Daging”. Ia membeli bahan-bahan dengan cepat dan berlari riang ke kediamannya yang bahkan bukan miliknya sendiri. Ia menyewa kediaman tersebut.
Ya, hari itu sang gadis dan keluarga kecilnya akan Pesta Tepung. Sang gadis membeli adonan tepung biasa serta yang telah dibentuk berulir-ulir dan keriting. Pertama ia mengolah adonan tepung berulir-ulir tersebut. Ia menambahkan beberapa tumbuhan yang berasal dari ladang, membuat masakan tersebut menjadi gurih dan pedas. Kemudian adonan tepung yang kedua, ia juga mencampur dengan tumbuhan-tumbuhan ladang, kali ini lebih banyak jenisnya. Adonan tersebut kemudian ia bentuk tipis namun luas, kurang lebih sebesar telapak tangan. Lalu ia mencelupkan adonan tersebut ke dalam lemak tumbuhan yang telah dipanasi terlebih dahulu. Masakan tersebut juga gurih serta merekah. Juga lezat.
Sang gadis tersenyum lagi. Hari itu mereka juga berpesta dengan riang. Ia dan keluarga kecilnya menikmati kedua masakan tersebut hingga kekenyangan dan akhirnya tertidur pulas.
(*)

Tuesday, March 25, 2014

There are some materials provided for learning English with fun. 

Click the link below for the exercises:


EXERCISE #1



Blogger Tricks

BTemplates.com

Powered by Blogger.

Text Widget

About me

About Me

My photo
Padang, Air Tawar Barat, Indonesia
Powered By Blogger

Subscribe

Search This Blog

Pinterest